TheJakartaPost

Please Update your browser

Your browser is out of date, and may not be compatible with our website. A list of the most popular web browsers can be found below.
Just click on the icons to get to the download page.

Jakarta Post

Dalam dekapan ayah

Kehadiran ayah membantu anak-anak berprestasi lebih baik secara akademis. Anak yang didampingi ayah menunjukkan kemajuan dalam kemampuan memecahkan masalah dan beradaptasi. Tumbuh bersama ayah juga meningkatkan ketahanan emosional, kreativitas, serta kepekaan dalam menghadapi tantangan.

Editorial board (The Jakarta Post)
Jakarta
Sat, July 19, 2025 Published on Jul. 18, 2025 Published on 2025-07-18T18:25:48+07:00

Change text size

Gift Premium Articles
to Anyone

Share the best of The Jakarta Post with friends, family, or colleagues. As a subscriber, you can gift 3 to 5 articles each month that anyone can read—no subscription needed!
A father and child enjoy the sunset on Sept. 6, 2021, at Kuta beach near Denpasar, Bali. A father and child enjoy the sunset on Sept. 6, 2021, at Kuta beach near Denpasar, Bali. (AFP/Sonny Tumbelaka)
Read in English

 

Jika Anda percaya bahwa jadi ayah didefinisikan dengan bekerja sepanjang waktu, atau tak henti mengejar kesuksesan karier, demi menafkahi keluarga serta memastikan anak-anak Anda diterima di sekolah bergengsi, mungkin ini saatnya Anda mempertimbangkan kembali prioritas Anda.

Di luar kenyamanan materi, yang sering dirindukan anak-anak adalah kehadiran ayah secara bermakna dalam hidup mereka. Tetapi, hal itu jarang mereka alami, apalagi dalam masyarakat kita, dengan sistem patriarki yang mengakar kuat. Padahal keterlibatan seorang ayah akan membentuk setiap langkah pertumbuhan anak-anak.

Pijakan langkah kaki pertama, kata-kata pertama yang terucap, hari pertama di sekolah, merupakan tonggak-tonggak kehidupan yang akan melekat erat di jiwa, ketika kedua orang tua hadir untuk menyaksikan dan mendukung anak-anak mereka.

Semakin banyak penelitian yang menggarisbawahi peran penting kehadiran seorang ayah secara emosional dan fisik, dalam perkembangan anak yang sehat. Sebaliknya, anak-anak yang secara nyata kehilangan ayah—kondisi yang umum disebut sebagai "fatherlessness” atau kurang lebih sebagai “ketiadaan ayah"—berisiko jauh lebih tinggi akan menghadapi masalah kesehatan mental, termasuk kecemasan, depresi, dan kurangnya rasa percaya diri.

Viewpoint

Every Thursday

Whether you're looking to broaden your horizons or stay informed on the latest developments, "Viewpoint" is the perfect source for anyone seeking to engage with the issues that matter most.

By registering, you agree with The Jakarta Post's

Thank You

for signing up our newsletter!

Please check your email for your newsletter subscription.

View More Newsletter

Baru-baru ini, sebuah studi menemukan bahwa anak-anak yang dibesarkan tanpa keterlibatan figur ayah sangat rentan terhadap depresi di kemudian hari. Untuk anak perempuan, risikonya lebih tinggi lagi. Secara akademis, anak-anak yang tidak didampingi ayah cenderung berprestasi buruk dan lebih rentan mengalami keadaan perilaku sulit. 

Secara sosial, ketiadaan kehadiran ayah dapat mengganggu kemampuan anak untuk membentuk dan mempertahankan hubungan yang sehat. Sementara itu, sebuah studi di Peru pada 2013 mengungkapkan bahwa anak-anak yang tinggal di rumah yang tidak ada figure ayah lebih mungkin mengalami malnutrisi. Pertumbuhan mereka dapat terhambat.

Secara konsisten, studi yang dilakukan antara tahun 1987 dan 2005 menemukan korelasi positif antara keterlibatan ayah dan kompetensi sosial, inisiatif, kedewasaan, dan kapasitas relasional anak secara keseluruhan.

Anak-anak ini berprestasi lebih baik secara akademis, menunjukkan peningkatan keterampilan dalam memecahkan masalah serta beradaptasi. Mereka juga menunjukkan ketahanan emosional, kreativitas, dan punya kepekaan yang lebih besar saat menghadapi tantangan.

Indonesia telah banyak disebut sebagai salah satu negara yang paling terdampak oleh fenomena ketiadaan ayah. Hal ini didorong oleh perpaduan antara faktor budaya dan ekonomi. Dalam norma patriarki tradisional, beban pengasuhan anak hampir sepenuhnya ditumpukan pada ibu. Di sisi lain, tekanan ekonomi memaksa banyak ayah—serta semakin banyak ibu—untuk bekerja berjam-jam di luar rumah.

Menurut data terbaru dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), 21 persen remaja Indonesia dilaporkan tumbuh dengan kekurangan figur aktif seorang ayah. Sementara itu, survei tahun 2021 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menemukan bahwa hanya sekitar 31 persen anak di bawah usia lima tahun yang dibesarkan dengan keterlibatan aktif kedua orang tua.

Menanggapi hal ini, BKKBN meluncurkan kampanye yang mendorong para ayah untuk mendampingi anak-anak mereka di hari pertama sekolah. Ini merupakan sebuah langkah simbolis, namun belum memadai untuk mengatasi krisis yang lebih besar. Perubahan nyata butuh dukungan sistemik yang memungkinkan para ayah untuk hadir sejak tahap awal kehidupan anak mereka.

Untuk mendorong keterlibatan sosok ayah yang bermakna, cuti berbayar bagi para ayah harus didukung secara luas. Cuti tersebut harus diimplementasikan secara ketat. Negara-negara Skandinavia telah menetapkan standar global yang tinggi; para ayah seringkali berhak atas cuti berbayar hingga satu tahun atau lebih. Hal itu membantu menormalisasi pola pengasuhan bersama sejak tahap awal kehidupan seorang anak. Bahkan masyarakat yang secara tradisional menganut paham patriarki seperti Jepang dan Korea Selatan telah menerapkan kebijakan cuti bagi ayah yang lebih longgar.

Di Indonesia, sebaliknya, masih jauh tertinggal. Undang-Undang Ketenagakerjaan 2023 hanya memberi para ayah dua hari cuti berbayar. Namun, kebijakan yang tergolong minim ini pun kurang diimplementasikan. Survei JobStreet 2024 mengungkapkan bahwa hanya 43 persen perusahaan yang telah mengadopsi kebijakan tersebut, dan hanya 14 persen yang menerapkannya.

Pemerintah harus fokus pada penegakan kebijakan yang jelas, termasuk pelaporan yang jelas, mekanisme audit, dan kampanye kesadaran publik. Insentif seperti keringanan pajak bagi perusahaan yang patuh pada aturan cuti untuk ayah, ditambah dengan sanksi atas ketidakpatuhan, sangat penting untuk mendorong perubahan perilaku.

Di luar kebijakan, masyarakat harus menyediakan sistem pendukung praktis. Misalnya, kelas pengasuhan anak, kelompok ayah berbasis komunitas, dan kampanye publik yang menormalisasi gagasan tentang peran ayah yang terlibat langsung, secara emosional, dalam hidup anak.

Di era ketika para ibu semakin aktif di dunia kerja, model pengasuhan yang seimbang bukan hanya ideal—tetapi juga penting. Tanpa model pengasuhan seimbang, anak-anak tidak hanya berisiko kehilangan ayah, tetapi juga kehilangan kedua orang tua. Kondisi itu tentu sangat berdampak buruk.

Your Opinion Matters

Share your experiences, suggestions, and any issues you've encountered on The Jakarta Post. We're here to listen.

Enter at least 30 characters
0 / 30

Thank You

Thank you for sharing your thoughts. We appreciate your feedback.

Share options

Quickly share this news with your network—keep everyone informed with just a single click!

Change text size options

Customize your reading experience by adjusting the text size to small, medium, or large—find what’s most comfortable for you.

Gift Premium Articles
to Anyone

Share the best of The Jakarta Post with friends, family, or colleagues. As a subscriber, you can gift 3 to 5 articles each month that anyone can read—no subscription needed!

Continue in the app

Get the best experience—faster access, exclusive features, and a seamless way to stay updated.