TheJakartaPost

Please Update your browser

Your browser is out of date, and may not be compatible with our website. A list of the most popular web browsers can be found below.
Just click on the icons to get to the download page.

Jakarta Post

Ministry claims Rinca Island project won't endanger Komodo dragon population

  • News Desk

    The Jakarta Post

Jakarta   /   Tue, October 27, 2020   /   09:29 am
Ministry claims Rinca Island project won't endanger Komodo dragon population Komodo dragons on Rinca Island in Flores, East Nusa Tenggara on March 29, 2018. (JP/Wienda Parwitasari)

The current construction project on Rinca Island, East Nusa Tenggara, will not put the Komodo dragon population at risk, the Environment and Forestry Ministry has stated following concerns over the safety of the endangered species amid tourism projects on the island.

A photo posted on Instagram account @gregoriusafioma on Saturday capturing a Komodo dragon facing a project truck on Rincah Island recently went viral and raised public concerns for the survival of Komodo dragons in the area.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Dapat kiriman foto tentang situasi pembangunan “jurassic park” ini dr seorang teman.⁣ Komodo “hadang” Truck pembangunan Jurassic Park di Rinca. ⁣ ⁣ Ini benar-benar “gila”, tak pernah dibayangkan sebelumnya bisa terjadi. ⁣ ⁣ Truk masuk ke dalam kawasan konservasi yang dijaga ketat selama puluhan tahun dan telah secara sistematik meminggirkan masyarakat dari akses terhadap pembangunan yg layak demi konservasi. ⁣ ⁣ Ini barangkali truk pertama yang masuk ke dalam kawasan konservasi komodo sejak komodo menjadi perhatian dunia tahun 1912.⁣ ⁣ Dengan santuy, orang menyaksikan dari atas truk, tanpa mereka menyadari bahwa kawasan ini telah melewati sejarah yang sangat panjang dan melibatkan narasi-narasi pengorbanan dari berbagai pihak. ⁣ ⁣ Semua cara untuk menentang rencana ini sudah dilakukan dan dilakukan secara terhomat sebagaimana pemuja rejim ini kehendaki baik di jalanan maupun di kantor-kantor pemerintahan, namun nyatanya memang tidak didengarkan. ⁣ ⁣ Pembangunan ini berawal dari kunjungan presiden Jokowi pada Juli 2019. Dalam kunjungan itu, ia mengumumkan rencana pembangunan tersebut. KLHK yang menjadi pengelolah TNK, hanya “nurut” saja kemauan presiden. ⁣ ⁣ Padahal tahun sebelumnya, beramai-ramai orang membongkar pengaplingan PT. Segara Komodo Lestari, milik David Makes (adiknya, Josua Makes, pemilik plataran komodo) di kawasan yang sama dan KLHK berkomitmen meninjau kembali ijin pembangunan dalam kawasan. ⁣ ⁣ Saya sendiri skeptis apakah pembangunan ini benar-benar suatu keputusan yang terencana atau rencana yang impulsif karena momentum saja. Jokowi sendiri mungkin tak banyak paham tentang konservasi komodo jika hanya mengandalkan satu-dua kali kunjungan saja. ⁣ ⁣ Dalam kunjungan kedua itu, kita mudah melihat siapa yang memfasilitasi Jokowi saat itu (bdk, kapal, tempat nginap, dan orang-orang yang mendampingi). ⁣ Presiden yang terobsesi dengan investasi apalagi yg menjual “kesejahteraan” masyarakat, tentu sangat antusias dg rencana itu. Padahal konsekuensinya banyak.⁣ ⁣ Melihat foto ini, dalih zona pemanfaatan hanyalah alibi semata. tahapan proses pembangunan ini saja, sdh jelas mengabaikan prinsip konservasi, apalagi bangunan dan model pengelolaan.

A post shared by gregorius afioma (@gregoriusafioma) on

“The Komodo dragon population remains stable at the Loh Buaya tourist location. If we control it properly and minimize contact with the animals, tourism activities will not endanger the population,” ministry spokesperson Nunu Anugrah said in a press statement on Monday, as quoted by kompas.com.

Rinca Island is among the three largest Islands along with Komodo and Padar Island that make up the world-renowned Komodo National Park.

Read also: Transportation Ministry provides $14.75m stimulus to boost aviation industry

Nunu said the estimated number of Komodo dragons in Loh Buaya was currently around 66, of which 15 were often roaming around the tourism project development area in the resort. Loh Buaya is the main habitat of the protected animal on Rinca Island, which can be reached with a two-hour boat ride from Labuan Bajo.

Nunu assured that project workers were being careful when using heavy equipment that could not be replaced by human labor at the construction site, such as trucks and excavators.

During the construction, Nunu said, the government had deployed five to 10 rangers to monitor the Komodo dragons around the site, including under buildings and vehicles carrying materials.

The tourism development project has reached 30 percent and is predicted to be completed in June 2021.

In order to speed up the construction process, the government is temporarily closing the Loh Buaya resort to tourists from Monday until the end of June next year.

A number of civil society groups, including the West Manggarai Tourism Rescue Society Forum (Formapp Mabar) and the Indonesian Forum for the Environment (Walhi), have criticized the development project.

Walhi director in NTT Umbu Wulang Tanaamahu Paranggi argued that the development of the Labuan Bajo National Strategic Tourism Area (KSPN), including on Rinca Island, would have a serious impact on the environment and surrounding communities.

Umbu said infrastructure development in the area could disrupt natural biodiversity, bringing changes in landscape and contamination of groundwater. (syk)