Penjualan mobil di Indonesia akhir-akhir ini anjlok, tetapi mungkin itu bukan berita buruk.
Angka yang disajikan oleh Gabungan Produsen Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) awal minggu ini menunjukkan bahwa mobil baru yang terjual dari pabrik ke dealer pada 2024 dibandingkan dengan 2023 turun hingga 14 persen. Dan angka penjualan 2023 sudah mengalami penurunan jika dibandingkan dengan angka 2022.
Selama dua tahun terakhir, jumlah kendaraan yang terjual turun dari sekitar 1,05 juta, menjadi 865.723.
Data tersebut menunjukkan bahwa orang Indonesia sudah tidak tertarik memiliki mobil lagi. Bisa juga, hanya karena berkurangnya jumlah orang yang mampu membeli kendaraan baru.
Produsen, yang selalu ingin mendapatkan atau mempertahankan insentif pemerintah, menyalahkan daya beli konsumen yang diduga melemah sebagai penyebab penurunan tersebut.
Mereka juga telah menurunkan target tahun ini, dengan meninggalkan target penjualan 1 juta unit yang biasa mereka lakukan. Target baru mereka lebih moderat yaitu 900.000 unit.
Tak ada yang bisa menyalahkan produsen dan distributor jika terus meminta stimulus baru untuk menjaga angka permintaan mobil, meskipun di sisi lain, pemerintah telah meluncurkan sejumlah kebijakan untuk mengurangi pajak dan biaya.
Namun, keterjangkauan harga bisa jadi hanya salah satu dari beberapa alasan yang membuat penjualan mobil lesu. Saat ini, calon pembeli mungkin menunda pembelian mobil baru karena mereka tidak yakin antara akan memilih kendaraan bermesin konvensional atau mobil bertenaga baterai, atau mobil hibrida.
Bahkan, beberapa orang yang telah memutuskan hendak membeli kendaraan listrik mungkin menunggu model baru tersedia di Indonesia. Bisa juga mereka menunggu pendirian lebih banyak stasiun pengisian daya umum.
Angka-angka Gaikindo tidak menjelaskan adanya pertimbangan tersebut. Tapi angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kendaraan listrik dan mobil hibrida telah laku keras. Tahun lalu, penjualan jenis kendaraan ini meningkat lebih dari dua kali lipat. Sekarang, angka penjualannya mencapai 12 persen dari keseluruhan pasar mobil.
Angka penjualan mobil listrik dan mobil hibrida tidak menunjukkan tanda melemahnya daya beli konsumen
Tentu saja, industri otomotif merupakan bagian penting dari perekonomian Indonesia. Menurut Kementerian Perindustrian, industri tersebut menyumbang 4,5 persen dari produk domestik bruto.
Produsen mobil dan industri-industri yang terkait juga mendatangkan pendapatan ekspor dan menyediakan lapangan kerja di sektor manufaktur. Hal itu membuat perekonomian kita tidak terlalu bergantung pada komoditas dengan harga global yang tidak stabil.
Meski demikian, penjualan di dalam negeri yang lebih rendah tidak terkait dengan pengiriman ke negara lain.
Yang lebih penting, data Gaikindo tidak menunjukkan adanya masalah di segmen mobil listrik atau EV. Mobil listrik merupakan jantung dari seluruh agenda pembangunan hilirisasi Indonesia, karena pemerintah terus berupaya memperluas industri otomotif di seputar produksi baterai. Upaya yang dilakukan mulai dari penambangan nikel hingga daur ulang material.
Selama segmen pasar penting itu mengalami pertumbuhan permintaan yang kuat, Indonesia dapat terus memanfaatkan pasar konsumennya yang besar sebagai faktor penarik investasi. Dengan pabrik-pabrik baru yang direncanakan untuk memproduksi EV yang lebih murah di dalam negeri, tren itu tampak berkelanjutan. Meski demikian, saat ini masalah keterjangkauan menjadi perhatian.
Oleh karena itu, tidak perlu terlalu khawatir dengan penurunan angka penjualan mobil. Ini mungkin waktu yang tepat untuk memikirkan cara meningkatkan transportasi umum agar kepemilikan mobil pribadi berakhir menjadi masalah keinginan dan bukan keharusan. Setidaknya di pusat-pusat kota di negara ini.
Di Jakarta, upaya untuk mengintegrasikan berbagai moda transportasi umum belum banyak berkembang, hanya sebatas memberlakukan pembayaran terpadu.
Para pengendara angkutan umum harus antre panjang untuk naik bus yang penuh sesak. Perjalanan juga jadi berbahaya di ruas yang disesaki pengendara sepeda motor yang bandel. Jalan kaki di trotoar pun harus menghadapi lintasan yang penuh lubang dan terhalang oleh kios-kios makanan. Tiba di kantor dalam keadaan kotor, berkeringat, dan terlambat hingga satu jam gara-gara naik angkutan umum tidak akan meyakinkan siapa pun untuk membuang mobil kesayangan mereka.
Transportasi umum masih belum memadai.
Pemerintah pusat dan daerah harus melipatgandakan upaya mereka untuk menyediakan alternatif yang layak selain transportasi pribadi. Untuk melakukannya, tidak hanya diperlukan komitmen finansial tetapi juga kesiapan untuk keputusan yang tidak populer. Misalnya ketika perlu memindahkan warga karena lahannya diperlukan untuk membangun infrastruktur baru.
EV adalah masa depan, sama halnya dengan kota-kota yang punya sarana transportasi massal berkualitas.
Share your experiences, suggestions, and any issues you've encountered on The Jakarta Post. We're here to listen.
Thank you for sharing your thoughts. We appreciate your feedback.
Quickly share this news with your network—keep everyone informed with just a single click!
Share the best of The Jakarta Post with friends, family, or colleagues. As a subscriber, you can gift 3 to 5 articles each month that anyone can read—no subscription needed!
Get the best experience—faster access, exclusive features, and a seamless way to stay updated.