Indonesia dan seluruh dunia harus berjuang lebih keras di kancah diplomatic, melalui PBB, untuk mengakhiri semua perang dan kekejaman.
omunitas internasional tampaknya sudah pasrah dengan kenyataan bahwa tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk menghentikan tindakan genosida yang dibuat Israel terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza.
Hingga hari ini, sudah hampir lima bulan sejak Israel mulai menggempur dan menghancurkan Gaza. Jumlah korban tewas telah mendekati 30.000 orang. Tak satu pun dari badan-badan PBB yang mampu menghentikan Israel, bahkan ketika Israel berencana menyerang Rafah di Gaza. Padahal, Rafah menjadi tempat tinggal 1,4 juta orang, termasuk sebagian besar yang telah beberapa kali mengungsi sejak perang dimulai.
Warga Palestina di Gaza, dan di Tepi Barat yang diduduki, seperti berjuang sendirian di dunia. Gaza dan Tepi Barat adalah tempat para pemukim Yahudi, yang dengan bantuan tentara Israel, membunuh dan mengusir warga Palestina.
Seluruh dunia bagai tidak berdaya, diam saja menyaksikan kekejaman yang terjadi di depan mata mereka. Berita soal perang menyebar melalui televisi dan video streaming di internet. Pemboman dan pengrusakan, kematian dan luka-luka, serta tangisan anak-anak dan perempuan yang putus asa telah menjadi berita sehari-hari sejak Oktober. Genosida akan segera jadi hal yang normal, atau bahkan jadi hal biasa saja, jika tidak ada lagi yang bersuara.
PBB dengan cepat kehilangan kredibilitasnya dan segera kehilangan pengaruhnya dalam menjamin perdamaian dan stabilitas di seluruh dunia. Organisasi tersebut memang sudah berupaya. Dewan Keamanan telah menolak hampir semua resolusi yang melawan Israel, terkait konflik di Gaza, karena Amerika Serikat menggunakan hak vetonya.
Majelis Umum telah berbuat lebih baik, dengan menghasilkan beberapa pernyataan yang mengecam Israel, serta menuntut gencatan senjata. Bulan lalu, Mahkamah Internasional (International Court of Justice atau ICJ) dalam keputusannya, menyebut operasi Israel yang sedang berlangsung di Gaza telah mengarah pada genosida.
Apa pun itu, tidak ada pengaruhnya. Israel terus menentang berbagai resolusi PBB terhadap negara Yahudi. Ia juga tidak mengindahkan opini publik internasional, seperti yang terungkap melalui protes jalanan besar-besaran di kota-kota besar di seluruh dunia, termasuk Washington DC, London, dan bahkan Tel Aviv.
Pengepungan Israel di Gaza tetap berlanjut, dan kemungkinan akan terus berjalan, sampai pembebasan semua sandera Israel yang ditangkap oleh pemberontak Hamas pada tanggal 7 Oktober. Hal itu diproklamirkan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Kita seperti harus bersiap menghadapi pembunuhan yang lebih brutal, jika terjadi serangan terhadap Rafah. Dan hal itu bisa terjadi kapan saja, mulai sekarang.
Meski PBB tak mampu berbuat banyak, beberapa negara terus menaruh kepercayaan mereka pada PBB, karena tidak ada alternatif lain.
Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi dijadwalkan menyampaikan pernyataan singkat di ICJ pekan ini. Indonesia secara konsisten telah menjadi pendukung kuat bagi negara Palestina merdeka. Hal ini merupakan wujud penting dukungan moral Indonesia terhadap rakyat Palestina. Dukungan di PBB, dan pengiriman kapal yang membawa pasokan bantuan baru-baru ini, adalah sedikit upaya yang bisa dilakukan Indonesia. Kita pasti berbuat lebih banyak jika diberi kesempatan.
Kita jangan dulu menyingkirkan badan-badan PBB. Indonesia dan seluruh dunia harus berjuang lebih keras di kancah diplomatik melalui PBB, untuk mengakhiri semua perang dan kekejaman. Mari menuntut Dewan Keamanan, yang beranggotakan 15 negara, untuk menggunakan kekuasaan dan wewenang yang dipercayakan kepadanya demi menjamin perdamaian dan stabilitas global.
Kita sudah melihat Dewan Keamanan PBB gagal menghentikan invasi Rusia ke Ukraina. Saat ini, lagi-lagi kita melihat Dewan Keamanan gagal menolong masyarakat Palestina. Kegagalan-kegagalan tersebut seolah mengirimkan pesan yang salah kepada dunia. Bukan saja bahwa badan dunia tersebut sangat tidak punya gigi, tetapi yang lebih berbahaya lagi, badan dunia itu seolah membiarkan para pemimpin ambisius seperti Netanyahu dan Vladimir Putin dari Rusia, bebas melakukan invasi, pendudukan, dan bahkan genosida.
Sementara itu, masyarakat global disuguhi berita dan informasi 24 jam sehari, 7 hari seminggu, melalui televisi dan layar komputer mereka. Hoaks dan lainnya bertebaran. Kita seperti melangkah di jalur yang berbahaya untuk menjadi tidak peka terhadap tragedi kemanusiaan. Kita seolah tidak peduli pada tragedi berikutnya, termasuk yang akan terjadi di Rafah.
Share your experiences, suggestions, and any issues you've encountered on The Jakarta Post. We're here to listen.
Thank you for sharing your thoughts. We appreciate your feedback.
Quickly share this news with your network—keep everyone informed with just a single click!
Share the best of The Jakarta Post with friends, family, or colleagues. As a subscriber, you can gift 3 to 5 articles each month that anyone can read—no subscription needed!
Get the best experience—faster access, exclusive features, and a seamless way to stay updated.