Can't find what you're looking for?
View all search resultsCan't find what you're looking for?
View all search resultsKurangnya persatuan antarnegara mungkin jadi salah satu masalah ASEAN saat ini.
Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN (ASEAN Ministerial Meeting atau AMM) tahunan, yang baru saja berakhir, di Kuala Lumpur, mungkin sekali lagi membuktikan peran sentral organisasi regional Asia Tenggara ini. Peran itu tidak hanya berlaku di kawasan Indo-Pasifik, tetapi juga di seluruh dunia. Namun, sentralitas semacam ini mungkin telah mereduksi ASEAN menjadi sekadar penyelenggara acara—tentu saja, sebuah acara yang baik. Hal itu bisa dihindari jika ASEAN menetapkan agenda yang lebih tegas, dengan tujuan jelas, untuk pertemuan-pertemuan ini.
Acara di musim panas ini, yang tiap tahun diadakan bergantian di ibu kota ASEAN, telah menjadi salah satu pertemuan internasional penting bagi para menteri luar negeri. Pertemuan dihadiri oleh perwakilan dari 27 negara termasuk Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia, selain oleh 10 negara anggota ASEAN.
Namun berdasarkan pantauan atas liputan media internasional, sejumlah jurnalis mancanegara tampak lebih tertarik pada pertemuan bilateral atau minilateral yang diadakan oleh para menteri. Konteks ASEAN hanya sedikit diperhatikan.
Terdapat hanya sedikit, jika ada, laporan terkait konferensi pers yang disampaikan oleh menteri luar negeri tuan rumah menjelang akhir pertemuan.
Komunike bersama atau laporan ketua jarang disebut-sebut. Sarat dengan bahasa diplomatik yang sopan dan tata bahasa ASEAN yang rumit, pernyataan resmi ini lebih dirancang untuk birokrat, bukan untuk jurnalis atau publik.
ASEAN memang mempertemukan para menteri luar negeri ini untuk membahas isu-isu ekonomi, keamanan, dan politik global.
AMM adalah serangkaian pertemuan yang kini mencakup sesi-sesi pascakonferensi yang digalang sendiri-sendiri, di antara para menteri dan mitra ASEAN (disebut PMC 10+1). Acara puncaknya adalah Forum Regional ASEAN (ASEAN Regional Forum atau ARF).
Hal ini memberi anggota ASEAN kesempatan untuk secara langsung mengangkat isu-isu dengan mitra, termasuk ketegangan, konflik, dan perang yang dapat mengancam perdamaian global. Ukraina, Gaza, dan Iran menjadi sorotan utama dalam diskusi mereka minggu lalu.
Kuala Lumpur juga menyambut Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio dalam debutnya di ASEAN. Terbuka kesempatan bagi negara-negara ASEAN untuk membahas kenaikan tarif impor yang sangat besar. Kenaikan tarif impor diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump kepada semua negara ASEAN, untuk mengurangi defisit perdagangan AS yang besar.
Yang lebih menarik perhatian media internasional adalah pertemuan bilateral Rubio dengan mitranya dari Rusia, Sergei Lavrov. Juga dengan Wang Yi dari Tiongkok.
Sayangnya, dalam hal pencapaian ASEAN sendiri, sebenarnya tidak banyak yang bisa dibanggakan, selain keberhasilan dalam menyelenggarakan acara tersebut,
ASEAN nyaris menyerah dalam upaya menyelesaikan perang saudara di Myanmar. Kini, keanggotaan Myanmar telah ditangguhkan. Anggota ASEAN terpecah dalam beberapa isu utama, termasuk ketegangan atas klaim maritim teritorial yang tumpang tindih di Laut China Selatan, antara beberapa anggota ASEAN dengan Tiongkok. Anggota ASEAN juga telah menyikapi perang tarif Trump secara individual, dengan hasil yang beragam. Masing-masing maju sendiri-sendiri, alih-alih bersuara bulat.
Kurangnya persatuan ini melemahkan sentralitas yang coba diproyeksikan oleh ASEAN kepada dunia, terkait perannya dalam urusan regional dan global. Terdapat pula kondisi kurang komando yang jelas di dalam kelompok ini. Anggota kelompok terbesar, Indonesia, enggan mengambil peran tersebut karena Presiden Prabowo Subianto tampaknya lebih banyak berinvestasi pada organisasi multilateral yang lebih besar.
Tidak ada maksud mengabaikan pentingnya ASEAN. Juga tidak mengecilkan makna pertemuan-pertemuan yang telah diselenggarakannya, yang sesungguhnya sangat berharga karena membahas isu-isu sulit. Meskipun tidak menghasilkan resolusi apa pun, pertemuan-pertemuan tersebut dapat memberi pemahaman yang lebih baik dan meredakan ketegangan yang terjadi di antara negara-negara peserta.
Namun, apa yang diperoleh ASEAN dari keberhasilan penyelenggaraan acara, selain pujian atas kemampuannya menjadi tuan rumah yang baik?
Share your experiences, suggestions, and any issues you've encountered on The Jakarta Post. We're here to listen.
Thank you for sharing your thoughts. We appreciate your feedback.
Quickly share this news with your network—keep everyone informed with just a single click!
Share the best of The Jakarta Post with friends, family, or colleagues. As a subscriber, you can gift 3 to 5 articles each month that anyone can read—no subscription needed!
Get the best experience—faster access, exclusive features, and a seamless way to stay updated.