TheJakartaPost

Please Update your browser

Your browser is out of date, and may not be compatible with our website. A list of the most popular web browsers can be found below.
Just click on the icons to get to the download page.

Jakarta Post

Melindungi diplomat kita

Detail yang dibagikan oleh penyidik polisi dapat mengarah pada pembunuhan.

Editorial board (The Jakarta Post)
Jakarta
Fri, August 1, 2025 Published on Jul. 31, 2025 Published on 2025-07-31T15:34:16+07:00

Change text size

Gift Premium Articles
to Anyone

Share the best of The Jakarta Post with friends, family, or colleagues. As a subscriber, you can gift 3 to 5 articles each month that anyone can read—no subscription needed!
Foreign Minister Sugiono delivers his annual foreign policy speech on Jan. 10  at the ministry's office in Jakarta. Foreign Minister Sugiono delivers his annual foreign policy speech on Jan. 10 at the ministry's office in Jakarta. (Antara/Muhammad Ramdan)
Read in English

K

etika tersiar kabar bahwa seorang diplomat muda di Kementerian Luar Negeri meninggal secara misterius pada 8 Juli, media mulai menggali lebih dalam tentang masa lalu personal dan profesionalnya. Lalu ketika terungkap bahwa ia pernah menjadi saksi dalam kasus perdagangan manusia, banyak yang menemukan pembenaran untuk mencurigai adanya tindak pidana.

Detail yang dibagikan oleh penyidik polisi dapat mengarah pada upaya pembunuhan.

Arya Daru Pangayunan ditemukan di tempat tidurnya dengan kepala terlilit lakban kuning dan dibungkus kantong plastik.

Dan meskipun mustahil seseorang melakukan autoerotic asphyxiation dengan cara melilitkan lakban di kepalanya sendiri, penyidik polisi yang menangani kasus ini bersikeras bahwa kematian diplomat tersebut merupakan kasus bunuh diri. Autoerotic asphyxiation adalah salah satu fantasi seksual yang dilakukan dengan menutup jalan napas sendiri. 

Teori bunuh diri tampak tidak masuk akal, terutama karena Arya terlihat gembira menyambut penugasan baru di Helsinki, Finlandia. Ia telah merancang rencana bersama istrinya, dan rekaman CCTV yang diperoleh polisi menunjukkan ia berbelanja pakaian baru untuk tugas tersebut.

Viewpoint

Every Thursday

Whether you're looking to broaden your horizons or stay informed on the latest developments, "Viewpoint" is the perfect source for anyone seeking to engage with the issues that matter most.

By registering, you agree with The Jakarta Post's

Thank You

for signing up our newsletter!

Please check your email for your newsletter subscription.

View More Newsletter

Rekaman dari CCTV yang terpasang di kamar sewaan Arya di Jakarta Pusat tidak menunjukkan tanda-tanda adanya tekanan jiwa atau perilaku aneh, sebelum ia ditemukan tewas beberapa jam kemudian.

Selasa lalu, dalam pengumuman resmi, Polda Metro Jaya tidak menyebutkan jika diplomat tersebut bunuh diri. Tetapi, penyidik tampaknya tetap berpegang pada narasi bunuh diri tersebut.

Polisi mendukung klaim tersebut dengan analisis riwayat surat elektronik Arya, yang mengungkapkan bahwa ia telah menghubungi layanan kesehatan mental pada 2013 dan 2021.

Namun, meskipun kita dapat mengabaikan begitu banyak hal janggal yang belum terungkap, dan mempercayai teori polisi tentang bunuh diri, kita punya alasan untuk percaya bahwa sistem telah gagal dalam menangani kasus diplomat muda tersebut. Faktanya, penyidik polisi masih belum menemukan ponsel Arya, dan rekaman CCTV dari malam kematiannya tampaknya juga telah diedit.

Ada tantangan tersendiri dalam menjadi diplomat yang sering bepergian ke berbagai belahan dunia, meskipun di sisi lain memiliki begitu banyak keuntungan dan privilese.

Keharusan beradaptasi di lingkungan baru, jam kerja panjang, dan tinggal jauh dari teman serta keluarga dapat meruntuhkan mental diplomat muda yang paling tangguh sekalipun.

Dan jika pimpinan Kementerian Luar Negeri menerima teori kepolisian bahwa kematian Arya adalah tindakan bunuh diri, departemen sumber daya manusia kini harus meningkatkan upayanya untuk memantau kesehatan mental para pegawai kementerian.

Namun, jika ternyata ada hal yang lebih jahat di balik kematian diplomat muda tersebut, Kementerian Luar Negeri mungkin akan menghadapi masalah yang jauh lebih besar.

Bagaimana jika Arya menjadi sasaran aktor nonnegara yang pekerjaannya terganggu oleh upaya pemerintah Indonesia dalam memberantas perdagangan manusia, perjudian daring, atau prostitusi?

Baru pada Maret lalu pemerintah memulangkan 569 WNI korban penipuan daring di Myanmar.

Dan jika kita yakin bahwa Arya, entah bagaimana, menjadi sasaran, banyak rekannya yang bertugas melindungi hak-hak WNI di luar negeri yang juga dapat masuk incaran. 

Salah satu tugas utama Kementerian Luar Negeri adalah memberikan perlindungan bagi warga negara Indonesia di luar negeri. Tetapi, sebelum melakukan itu, Kementerian Luar Negeri harus melindungi keselamatan dan kesejahteraan diplomatnya sendiri.

Hilangnya satu nyawa pun sudah terlalu banyak.

Your Opinion Matters

Share your experiences, suggestions, and any issues you've encountered on The Jakarta Post. We're here to listen.

Enter at least 30 characters
0 / 30

Thank You

Thank you for sharing your thoughts. We appreciate your feedback.

Share options

Quickly share this news with your network—keep everyone informed with just a single click!

Change text size options

Customize your reading experience by adjusting the text size to small, medium, or large—find what’s most comfortable for you.

Gift Premium Articles
to Anyone

Share the best of The Jakarta Post with friends, family, or colleagues. As a subscriber, you can gift 3 to 5 articles each month that anyone can read—no subscription needed!

Continue in the app

Get the best experience—faster access, exclusive features, and a seamless way to stay updated.