press enter to search

First-ever online ‘wayang orang’ to be livestreamed on June 27

News Desk

The Jakarta Post

Jakarta  /  Fri, June 26, 2020  /  01:20 pm
First-ever online ‘wayang orang’ to be livestreamed on June 27

Permadi [left] and Banowati, the main characters of the wayang orang performance titled “Remong Batik” by Wayang Orang Bharata troupe on June 18, 2016 at the Bharata Purwa building in Central Jakarta. (The Jakarta Post/wienda parwitasari)

An online wayang orang (human puppet) performance is set to be livestreamed via video conferencing app Zoom on June 27 at 7:30 p.m. 

Titled Sirnaning Pageblug (The Vanishing of the Pandemic), the event is a collaborative effort between National Geographic Indonesia, Wayang Orang Bharata troupe and state-owned oil and gas company Pertamina. It is said to be the first ever online wayang orang as each of the troupe members will perform from their home.

The performance aims to find a solution for art performances during this “new normal” period and serve as a charity platform for artists whose activities have been halted due to the outbreak.

The show’s director, Teguh Ampiranto, said Sirnaning Pageblug was a creative outlet during the pandemic.

“We’ll stage wayang orang from our own houses, so do look forward to it,” Teguh said as quoted by tribunnews.com.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Siaran Langsung via ZOOM Wayang Orang Daring Pertama di Indonesia “SIRNANING PAGEBLUG” Saat menonton wayang orang, kita seperti diajak ke peradaban surealis. Nuansa cerita karya pujangga-pujangga agung itu begitu fantastik, epik, puitik, klasik, heroik, dan kadang menggelitik. Suasana serupa hadir ketika kita membaca novel Lord of The Rings karya J.R.R. Tolkiens, atau versi layar lebarnya. Wayang orang, sebagai karya agung, merupakan salah satu kesenian yang mampu melewati dinamika zaman. Kisah–kisahnya dikutip dari Ramayana dan Mahabrata, yang megah dan sarat makna sebagai teladan hidup. Namun, kemegahan cerita itu tidak tercermin pada nasib para seniman wayang orang. Sepanjang berjangkitnya pagebluk, gedung pertunjukan mereka ditutup, aktivitas pertunjukan tiap malam pun tidak bisa mereka pentaskan. Atas kondisi yang memprihatinkan, kita berupaya mendorong kesenian ini untuk tetap lestari. National Geographic Indonesia dan para seniman wayang orang mencoba mencari solusi untuk pentas kesenian pada tatanan “kenormalan baru”. Dengan bangga kami mementaskan tajuk “Sirnaning Pageblug”—dalam bahasa Indonesia bermakna “Hilangnya Pandemi”. Inilah pertunjukan wayang orang daring via ZOOM pertama di Indonesia, yang berupaya tetap melestarikan pakem-pakem dalam pentas wayang orang. Kreativitas membutuhkan keberanian. Pertunjukan ini ditayangkan langsung via ZOOM yang dipentaskan dari masing-masing rumah seniman wayang orang. Pentas pertunjukan ini sekaligus menggerakkan empati warga untuk lebih peduli pada seni dan seniman pada masa pandemi. Sabtu, 27 Juni 2020 19.30 – 20.30 Donasi setulus hati untuk seniman wayang orang yang aktivitasnya terhenti karena pandemi: BCA 5230316009 a/n Paguyuban Seniman Wayang Orang Bharata. Sahabat, dapat mendaftar melalui bit.ly/NGI_wayangorang "Wayang Orang Daring Pertama di Indonesia" merupakan sinergi National Geographic Indonesia, seniman wayang orang Bharata, bersama Pertamina sebagai mitra dalam program pelestarian budaya. #wayangorang #natgeoindonesia #15tahunnatgeoindonesia #berbagicerita #bisadarirumah #gridnetwork #energitakberhenti #BUMNuntukIndonesia

A post shared by National Geographic Indonesia (@natgeoindonesia) on

Separately, artist Purnawan Andra said wayang orang was more than just a reflection of traditional values but also a projection about the future.

“If wayang orang performances now come in an online format, don’t you think that’s interesting? This performance intrigues us to witness this important moment during the new normal era,” Purnawan said.

Those who want to watch the performance are required to register online.

Performed on a majestic stage with artists wearing lavish costumes, wayang orang usually adopt stories from epics Mahahbharata and Ramayana, which are rich in moral messages. (wir/kes)

Your premium period will expire in 0 day(s)

close x
Subscribe to get unlimited access Get 50% off now