TheJakartaPost

Please Update your browser

Your browser is out of date, and may not be compatible with our website. A list of the most popular web browsers can be found below.
Just click on the icons to get to the download page.

Jakarta Post

Tak hadiri KTT ASEAN adalah kebijakan luar negeri yang buruk

Sebagai negara menengah, Indonesia dapat memanfaatkan ASEAN untuk memajukan kepentingan nasional dan regional, dan bahkan kepentingan negara-negara berkembang lain.

Editorial board (The Jakarta Post)
Jakarta
Thu, October 10, 2024 Published on Oct. 9, 2024 Published on 2024-10-09T11:12:43+07:00

Change text size

Gift Premium Articles
to Anyone

Share the best of The Jakarta Post with friends, family, or colleagues. As a subscriber, you can gift 3 to 5 articles each month that anyone can read—no subscription needed!
A general view inside the National Convention Centre ahead of the 44th and 45th ASEAN Summits and Related Summits in Vientiane on Oct. 7, 2024. A general view inside the National Convention Centre ahead of the 44th and 45th ASEAN Summits and Related Summits in Vientiane on Oct. 7, 2024. (Reuters/Athit Perwongmetha)
Read in English

Presiden Joko “Jokowi” Widodo telah melakukan kesalahan terbesar terkait kebijakan luar negeri, dengan memutuskan tidak menghadiri rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN pekan ini di Vientiane. Indonesia bukan hanya anggota ASEAN terbesar, tetapi juga negara yang paling berkomitmen terhadap kelompok tersebut, sehingga ketidakhadiran Presiden RI akan sangat mencolok dan akan mengurangi bobot penting KTT tersebut. Pemimpin negara lain yang hadir akan mencatat hal ini dan mungkin akan menjadikan hal tersebut alasan melewatkan pertemuan berikutnya.

Ketidakhadiran Jokowi akan membuat klaim Indonesia bahwa ASEAN adalah landasan kebijakan luar negerinya menjadi lemah. Padahal klaim itu semacam mantra yang tidak pernah lelah diucapkan oleh para diplomat kita. Jika ASEAN sepenting itu bagi Indonesia, Presiden seharusnya membuktikannya dengan berada di garis terdepan.

Presiden mengutus Wakil Presiden Ma'ruf Amin untuk mewakilinya di pertemuan puncak KTT ASEAN yang beranggotakan 10 negara. Juga untuk menghadiri pertemuan puncak ASEAN-Plus-Three dengan Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. Wakil Presiden juga akan mewakili Presiden pada KTT Asia Timur yang beranggotakan 18 negara termasuk Tiongkok, Amerika Serikat, dan Rusia. Dengan segala hormat kepada Ma'ruf, bagaimana pun, wakil presiden hanya punya sedikit pengalaman dalam KTT ASEAN. Ditambah lagi, keterampilan diplomatiknya terbatas untuk dapat secara efektif mewakili Indonesia.

Tidak masuk akal jika Kantor Kepresidenan beralasan bahwa Jokowi disibukkan dengan persiapan pergantian pemerintahan pada 20 Oktober. Hal itu lebih menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri bukan merupakan prioritas utama bagi Presiden. Pergi ke Laos akan menjadi kesempatan yang tepat bagi Jokowi untuk pamit, mengucapkan selamat tinggal dan berterima kasih kepada para pemimpin negara lainnya. Bagaimana pun, KTT ASEAN 2024 akan menjadi KTT yang terakhir ia ikuti sebagai presiden RI. 

Adalah Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi yang harus diberi penghargaan karena diplomasi luar negeri Indonesia benar-benar cemerlang dalam 10 tahun masa jabatan Jokowi.  Dalam banyak isu, termasuk isu terbaru tentang perang Gaza, Retno, bukan Jokowi, telah menjadi juru bicara Indonesia di mata masyarakat internasional. Namun, hanya sedikit yang dapat dilakukan oleh seorang menteri luar negeri. Presiden seharusnya bertindak lebih aktif dan mendukung penuh.

The Jakarta Post - Newsletter Icon

Viewpoint

Every Thursday

Whether you're looking to broaden your horizons or stay informed on the latest developments, "Viewpoint" is the perfect source for anyone seeking to engage with the issues that matter most.

By registering, you agree with The Jakarta Post's

Thank You

for signing up our newsletter!

Please check your email for your newsletter subscription.

View More Newsletter

Mengingat pentingnya ASEAN bagi kebijakan luar negeri Indonesia, tidak seorang pun presiden Indonesia yang boleh menjauh dari KTT kelompok tersebut. Tentu saja alasannya agar Indonesia tidak kehilangan hak untuk memimpin organisasi tersebut. Tidak ada negara lain yang lebih mampu memimpin selain Indonesia. Dan hal itu diakui serta diterima oleh sembilan negara anggota lainnya, juga diterima oleh sebagian besar masyarakat global. Meskipun kepemimpinan ASEAN dirotasi setiap tahun di antara negara anggota, ada harapan bahwa Indonesia akan konstan menjadi ketua. 

Indonesia telah membangun mandat diplomatik untuk memimpin ASEAN. Banyak inisiatif, dari mulai Komunitas ASEAN dan Indo-Pasifik Outlook, hingga proses perdamaian di Kamboja tiga dekade lalu, dihasilkan dari Jakarta. Yang terbaru adalah rencana perdamaian lima poin untuk Myanmar. Namun, sudah waktunya bagi Indonesia untuk berbuat lebih banyak.

Sekarang sebagai kekuatan menengah global dengan aspirasi kuat untuk memainkan peran yang lebih besar dalam diplomasi internasional, Indonesia dapat menggunakan ASEAN sebagai kendaraan untuk memajukan kepentingan nasional dan regionalnya. Bukan tidak mungkin juga untuk kepentingan Global South, kelompok lain yang sedang mencari pemimpin. Kepemimpinan ASEAN tersedia untuk Indonesia. Tunggu apa lagi? 

Kita sering mengkritik presiden AS, dari Clinton dan Bush hingga Obama, Trump juga Biden, karena mereka tidak hadir dalam KTT yang diselenggarakan ASEAN. Terkadang, AS mengirim utusan, bahkan bukan wakil presiden tetapi hanya delegasi setingkat menteri. Di Laos minggu ini, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken yang hadir. Namun, ASEAN tidak terlalu penting bagi Washington dan negara-negara lain, seperti pentingnya kelompok itu bagi Indonesia.

Ketidakhadiran Jokowi bukanlah kerugian besar bagi politik luar negeri Indonesia. Penggantinya, Prabowo Subianto, telah berhasil mencitrakan diri sebagai presiden yang sangat paham politik luar negeri dan akan lebih memperhatikannya. Sejak menang dalam pemilihan presiden yang diumumkan pada Maret lalu, Prabowo telah mengunjungi lebih dari selusin negara, termasuk Tiongkok, Jepang, Prancis, Rusia, dan Australia. Ia melawat tidak hanya sebagai menteri pertahanan kabinet Jokowi, tetapi juga sebagai presiden RI berikutnya. 

Kita nantikan saja perkembangan politik luar negeri Indonesia, dan khususnya kebijakan ASEAN, di bawah presiden terpilih, Prabowo.

Your Opinion Matters

Share your experiences, suggestions, and any issues you've encountered on The Jakarta Post. We're here to listen.

Enter at least 30 characters
0 / 30

Thank You

Thank you for sharing your thoughts. We appreciate your feedback.

Share options

Quickly share this news with your network—keep everyone informed with just a single click!

Change text size options

Customize your reading experience by adjusting the text size to small, medium, or large—find what’s most comfortable for you.

Gift Premium Articles
to Anyone

Share the best of The Jakarta Post with friends, family, or colleagues. As a subscriber, you can gift 3 to 5 articles each month that anyone can read—no subscription needed!

Continue in the app

Get the best experience—faster access, exclusive features, and a seamless way to stay updated.