TheJakartaPost

Please Update your browser

Your browser is out of date, and may not be compatible with our website. A list of the most popular web browsers can be found below.
Just click on the icons to get to the download page.

Jakarta Post

Masalah abadi yang menanti Pramono

Pemimpin baru Jakarta harus mengakui adanya kebutuhan mendesak untuk menjadikan kota ini lebih layak huni. Dan untuk itu, diperlukan keseimbangan antara pembangunan infrastruktur dengan pembangunan sosial, pertumbuhan ekonomi, serta perlindungan lingkungan.

Editorial board (The Jakarta Post)
Jakarta
Mon, March 3, 2025 Published on Mar. 2, 2025 Published on 2025-03-02T19:51:02+07:00

Change text size

Gift Premium Articles
to Anyone

Share the best of The Jakarta Post with friends, family, or colleagues. As a subscriber, you can gift 3 to 5 articles each month that anyone can read—no subscription needed!
Jakarta Governor Pramono Anung (left) and Deputy Governor Rano Karno (right) prepare to take part in a parade at the Monas Cross Square in Jakarta on Feb. 20, 2025. Jakarta Governor Pramono Anung (left) and Deputy Governor Rano Karno (right) prepare to take part in a parade at the Monas Cross Square in Jakarta on Feb. 20, 2025. (Antara Foto/Bayu Pratama S)
Read in English

 

Gubernur Jakarta Pramono Anung dan wakilnya Rano Karno memulai masa jabatan lima tahun mereka untuk memimpin kota ini. Dan kota Jakarta masih saja dilanda berbagai masalah lama, mulai dari kemacetan lalu lintas hingga banjir.

Jakarta memang mengalami banyak perbaikan di bawah pimpinan pendahulu Pramono. Tetapi, kota yang dirancang untuk dijelajahi dengan kendaraan ini masih terkenal dengan kemacetan lalu lintasnya yang parah, terutama pada jam-jam sibuk.

Tahun lalu, sebuah laporan yang dikerjakan oleh perusahaan teknologi lokasi asal Belanda, TomTom, menempatkan Jakarta sebagai kota terpadat ke-90 di dunia. Sebaliknya, Jakarta adalah kota terpadat keempat di dunia pada 2017.

Meskipun tingkat kemacetan jalan raya telah membaik, beberapa jaringan transportasi umum kita, yang kelebihan beban, sudah mulai menua. Hal itu menimbulkan masalah lebih lanjut bagi kota ini.

The Jakarta Post - Newsletter Icon

Viewpoint

Every Thursday

Whether you're looking to broaden your horizons or stay informed on the latest developments, "Viewpoint" is the perfect source for anyone seeking to engage with the issues that matter most.

By registering, you agree with The Jakarta Post's

Thank You

for signing up our newsletter!

Please check your email for your newsletter subscription.

View More Newsletter

Dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di dunia, Jakarta tertinggal dalam hal transportasi umum yang andal dan terintegrasi.

Bus Transjakarta yang penuh sesak adalah pemandangan sehari-hari. Integrasi antara sistem bus rapid transit (BRT) dengan MRT dan LRT Jakarta masih jauh dari harapan. Hal yang sama berlaku untuk kereta Commuter Line milik negara yang melayani wilayah Jabodetabek.

Banjir adalah masalah lain yang sulit diatasi, di kota kita yang usianya hampir 500 tahun ini. Belum teratasinya masalah banjir terlihat jelas pada puncak musim hujan di bulan Januari.

Sejumlah lingkungan dan jalan di seluruh penjuru kota, dan di sekitar Jabodetabek, terendam banjir selama dan setelah Tahun Baru Imlek. Akibatnya, akses ke ibu kota dan ke bandara terhambat selama masa liburan panjang. Padahal, Bandara Internasional Soekarno-Hatta merupakan titik pusat perjalanan udara ke dan dari Jakarta. Saat libur panjang itu, hampir 3.000 orang mengungsi akibat banjir.

Para pemimpin baru Jakarta harus mengakui adanya kebutuhan mendesak untuk menjadikan kota ini lebih layak huni. Dan untuk itu, diperlukan keseimbangan antara pembangunan infrastruktur dengan pembangunan sosial, pertumbuhan ekonomi, serta perlindungan lingkungan.

Pramono telah menetapkan kebijakan prioritasnya untuk 100 hari pertama masa jabatannya. Prioritas tersebut meliputi perluasan jaringan Transjakarta dan integrasinya dengan angkutan umum di Jabodetabek, menyelenggarakan bursa kerja setiap tiga bulan di masing-masing dari 44 wilayah kabupaten dan kota, menjaga taman kota tetap buka selama  24 jam sehari, dan mengembangkan bank sampah di setiap RW.

Sejauh ini, peningkatan respons pemerintah kota terhadap banjir tidak ada dalam daftar. Tetapi, Pramono dan Rano saat kampanye dulu berjanji menyelesaikan masalah banjir Jakarta dengan membangun lebih banyak waduk dan membuka lebih banyak ruang terbuka hijau. Mereka juga berjanji meningkatkan sistem drainase, sebuah langkah perbaikan yang telah lama diabaikan.

Pramono juga mengatakan bahwa ia akan berusaha untuk mengintegrasikan beberapa janji kampanye dari lawan-lawannya saat pemilihan gubernur lalu ke dalam daftar tugas pemerintahannya.

Jakarta akan kehilangan statusnya sebagai ibu kota Indonesia, jika dan ketika pusat pemerintahan dipindahkan ke Nusantara di Kalimantan Timur. Namun, kota tersebut akan tetap menjadi episentrum ekonomi negara dalam wilayah perkotaan aglomerasi yang luas.

Sebagai tempat tinggal bagi lebih dari 11 juta orang, Jakarta adalah salah satu kota metropolitan terbesar di Asia Tenggara. Jakarta juga merupakan pusat keuangan, budaya, dan politik negara ini.

Jutaan orang dari daerah sekitar Jakarta mendatangi kota ini setiap hari, sebagian besar untuk bekerja.

Itulah alasan mengapa gubernur baru harus tahu bahwa membangun Jakarta akan butuh sinergi antara pemerintah kota, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah di Jabodetabek.

Masalah-masalah Jakarta juga terlalu besar dan terlalu rumit untuk dipecahkan tanpa dukungan dari berbagai kelompok di kota ini. Reputasi Pramono sebagai sosok yang disukai semua orang dapat membantu dalam tugas yang sulit ini.

Pramono dan Rano memenangkan pemilihan gubernur tahun lalu, berkat gelombang dukungan dari penduduk asli Betawi kota ini, serta para pendukung mantan gubernur populer Anies Baswedan. Mereka juga memenangkan dukungan dari Anies sendiri, dan mantan gubernur Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama, saat kampanye.

Oleh karena itu, mari berharap Pramono akan mampu menjembatani kesenjangan antara kelompok-kelompok politik di Indonesia, termasuk pemerintah pusat.

Kini, kini menunggu Pramono dan Rano membuktikan diri bahwa mereka mampu memecahkan masalah Jakarta yang sudah lama ada.

Your Opinion Matters

Share your experiences, suggestions, and any issues you've encountered on The Jakarta Post. We're here to listen.

Enter at least 30 characters
0 / 30

Thank You

Thank you for sharing your thoughts. We appreciate your feedback.

Share options

Quickly share this news with your network—keep everyone informed with just a single click!

Change text size options

Customize your reading experience by adjusting the text size to small, medium, or large—find what’s most comfortable for you.

Gift Premium Articles
to Anyone

Share the best of The Jakarta Post with friends, family, or colleagues. As a subscriber, you can gift 3 to 5 articles each month that anyone can read—no subscription needed!

Continue in the app

Get the best experience—faster access, exclusive features, and a seamless way to stay updated.