TheJakartaPost

Please Update your browser

Your browser is out of date, and may not be compatible with our website. A list of the most popular web browsers can be found below.
Just click on the icons to get to the download page.

Jakarta Post

Pemilu di negara tetangga 

Kemenangan telak Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dalam pemilihan umum di negara masing-masing pada Sabtu,  seharusnya sangat melegakan bagi bagi Presiden Prabowo Subianto.

Editorial board (The Jakarta Post)
Jakarta
Mon, May 5, 2025 Published on May. 4, 2025 Published on 2025-05-04T14:11:37+07:00

Change text size

Gift Premium Articles
to Anyone

Share the best of The Jakarta Post with friends, family, or colleagues. As a subscriber, you can gift 3 to 5 articles each month that anyone can read—no subscription needed!
President Prabowo Subianto (right) and Singaporean Prime Minister Lawrence Wong shake hands on Nov. 6, 2024, after giving a press statement at the Presidential Palace in Jakarta. President Prabowo Subianto (right) and Singaporean Prime Minister Lawrence Wong shake hands on Nov. 6, 2024, after giving a press statement at the Presidential Palace in Jakarta. (AFP/Bay Ismoyo)
Read in English

 

Pada Sabtu 3 Mei, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menang telak dalam pemilihan di negara masing-masing. Kemenangan itu seharusnya sangat melegakan bagi Presiden Prabowo Subianto. Dia dapat terus bekerja sama dengan kedua pemimpin tersebut, yang ia kenal secara langsung saat menghadapi ketidakpastian global yang memburuk.

Pemerintah di negara-negara tetangga, seperti para anggota ASEAN, Australia, dan negeri di Asia Timur, juga merasakan kepastian serupa ketika Presiden Prabowo menggantikan Joko "Jokowi" Widodo Oktober lalu. Prabowo telah berulang kali meyakinkan bahwa pemerintahannya akan melanjutkan kebijakan Jokowi, termasuk yang berkaitan dengan urusan luar negeri.

Presiden Prabowo harus bertindak cepat untuk menegaskan kembali kerja sama bilateral dengan kedua negara Singapura dan Australia. Ia tidak perlu ragu untuk segera melakukan kunjungan bilateral, karena dua negara tersebut termasuk di antara mitra perdagangan dan investor utama Indonesia. Ada kesan bahwa Australia selalu lebih proaktif dalam menghadapi Indonesia. Kesan itu tidak berlaku lagi di tengah gejolak geopolitik dan ekonomi yang terjadi.

Setelah mandat besar yang diterima PM Wong dari para pemilih pada Sabtu lalu, pihak Indonesia tidak lagi ragu untuk kembali mempererat pendekatan bilateral dengan Singapura. Toh, pemimpin baru telah memenangkan mandat yang kuat dari rakyat, dan ia tidak akan lagi bergantung pada pendahulu dan mentornya, PM Lee Hsien Loong.

The Jakarta Post - Newsletter Icon

Viewpoint

Every Thursday

Whether you're looking to broaden your horizons or stay informed on the latest developments, "Viewpoint" is the perfect source for anyone seeking to engage with the issues that matter most.

By registering, you agree with The Jakarta Post's

Thank You

for signing up our newsletter!

Please check your email for your newsletter subscription.

View More Newsletter

Indonesia dan Singapura dapat berbagi upaya bersama untuk menghadapi tatanan perdagangan yang kacau, karena sangat jelas bahwa Trump akan melanjutkan diplomasi "pemerasan". Hal itu akan ia lakukan pada mitra dagang utama Amerika Serikat, yang terus mengalami defisit perdagangan yang signifikan.

Semangat multilateralisme, yang selalu diagungkan oleh banyak negara berkembang seperti Indonesia, telah mati. Sekarang, semangat itu digantikan oleh unilateralisme, karena Trump dengan terlalu congkak sangat percaya bahwa dia akan dapat sepenuhnya mengendalikan dunia, melalui perang dagang globalnya. Namun Indonesia masih dapat menyesuaikan diri dengan mengaktifkan konsep liberalism. Konsep itu akan melibatkan mitra dagang dan tetangga terdekat Indonesia.

Para pemilih di Singapura, bersama dengan keputusan Australia untuk mewajibkan pemungutan suara, mencerminkan bahwa mereka lebih suka mempertahankan pemimpin yang telah menjabat. Dan hal itu terlepas dari ketidakpuasan mereka dengan rekam jejak para pemimpin itu sebelumnya. Wong dan Albanese lebih siap menghadapi kemungkinan dampak terburuk dari perang tarif Presiden Trump, dibandingkan dengan kandidat dari partai oposisi.

PM Wong, yang tahun lalu menggantikan Lee Hsien Loong, memenangkan mandat yang kuat dari warga Singapura, dengan keberhasilan the People's Action Party's (PAP) memenangkan 87 persen dari 97 kursi parlemen. Pemimpin di negara yang berbentuk kota itu akan melanjutkan programnya untuk mengatasi gejolak ekonomi akibat perang dagang yang sedang berlangsung. Trump mengenakan tarif tambahan sebesar 10 persen kepada negara yang saat ini menjadi pusat keuangan Asia tersebut. Dan tarif yang dikenakan pada Singapura menjadi yang terendah di antara 10 negara anggota ASEAN.

Menurut media lokal, PAP belum secara resmi dinyatakan sebagai pemenang. Tapi, partai itu memperoleh 65,57 persen suara, melampaui 61,2 persen yang dicapai dalam pemilihan umum 2020. Partai-partai oposisi masih mengajukan keberatan atas pembatasan pemerintah terhadap pergerakan mereka.

PAP telah berkuasa sejak sebelum kemerdekaan Singapura pada 1965. Selama enam dekade, negara itu diperintah oleh Lee dan ayahnya, Lee Kuan Yew.

Di sisi lain, kemenangan PM Albanese juga menunjukkan keputusan para pemilih untuk memilih pemimpin yang mengusung kesinambungan, dan bukan yang mengajukan perubahan. Keputusan Trump mengejutkan warga Australia, karena kedua negara punya aliansi militer yang kuat. Bahkan, yang terbaru, mereka membentuk blok Australia, Inggris, dan AS (Australia, the United Kingdom and the US, atau AUKUS). Bagaimana pun, Trump telah mengindikasikan bahwa ia akan membatalkan semua perjanjian yang ditandatangani oleh pendahulunya, Presiden Joe Biden.

Kemenangan Albanese menjadikannya Perdana Menteri Australia pertama yang memenangkan pemilihan ulang dalam dua dekade. Menurut laporan berita Australia, ia akan memulai masa jabatan keduanya dengan sedikitnya 87 kursi di majelis rendah yang beranggotakan 150 orang.

Indonesia dan Australia punya peluang yang lebih luas untuk meningkatkan hubungan perdagangan bilateral mereka, karena keduanya akan terpengaruh oleh tindakan jingoistic, atau perbuatan menganggap negaranya sebagai yang terbaik di dunia, yang dilakukan Trump. Indonesia harus realistis, bahwa meskipun hubungan dengan Australia sering fluktuatif, kedua negara berkekuatan menengah itu saling bergantung.

Namun, hasil pemilu di Singapura dan Australia menunjukkan bahwa masyarakat lebih peduli dengan masalah dalam negeri, yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari mereka. Mereka kurang memperhatikan kebijakan luar negeri yang luar biasa, yang hanya menguntungkan dalam jangka panjang, jika memang ada keuntungannya. 

Selamat kepada PM Wong dan PM Albanese.

Your Opinion Matters

Share your experiences, suggestions, and any issues you've encountered on The Jakarta Post. We're here to listen.

Enter at least 30 characters
0 / 30

Thank You

Thank you for sharing your thoughts. We appreciate your feedback.

Share options

Quickly share this news with your network—keep everyone informed with just a single click!

Change text size options

Customize your reading experience by adjusting the text size to small, medium, or large—find what’s most comfortable for you.

Gift Premium Articles
to Anyone

Share the best of The Jakarta Post with friends, family, or colleagues. As a subscriber, you can gift 3 to 5 articles each month that anyone can read—no subscription needed!

Continue in the app

Get the best experience—faster access, exclusive features, and a seamless way to stay updated.