Can't find what you're looking for?
View all search resultsCan't find what you're looking for?
View all search resultsKita harus menganggap kemudahan keanggotaan di BRICS jadi pengakuan atas posisi Indonesia sebagai negara dengan ekonomi menengah, dan karenanya mampu memengaruhi pembangunan global.
Presiden Prabowo Subianto mengejutkan seluruh negeri ketika, beberapa hari setelah pelantikan pada Oktober tahun lalu, ia mengumumkan bahwa Indonesia akan bergabung dengan BRICS. Organisasi ini adalah forum global yang didukung oleh Tiongkok, Rusia, dan India.
Saat itu, muncul pertanyaan tentang apa yang akan kita dapat dari forum multilateral lain, kontribusi apa yang kita berikan, dan apa yang akan membuat bergabung dengan BRICS sepadan dengan usaha kita. Apa pun itu, kita tidak ingin Indonesia menjadi sekadar “brics” biasa. Dalam Bahasa Inggris, brics adalah batu bata. Jangan sampai keanggotaan kita hanya seperti batu bata di tembok, yang tak kentara.
Pekan ini, debut Presiden Prabowo di pertemuan BRICS di Rio de Janeiro dapat menjawab beberapa pertanyaan yang mengemuka seputar keputusannya yang tergesa-gesa untuk bergabung dengan kelompok tersebut. Hal itu menunjukkan perubahan mendadak dalam kebijakan luar negeri Indonesia.
Agenda utama Indonesia yang sejalan dengan agenda BRICS adalah dalam upaya mereformasi struktur ekonomi dan keuangan global, yang saat ini oleh sebagian besar pihak dipandang sebagai tidak adil dan tidak benar. Pendahulu Prabowo, Joko “Jokowi” Widodo, dalam banyak kesempatan mengkritik Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional karena lebih mewakili kepentingan Barat dan bukan kepentingan mayoritas masyarakat global.
Kita juga punya minat yang sama terhadap kampanye BRICS untuk mengurangi besarnya ketergantungan perdagangan internasional pada dolar Amerika Serikat, meski tidak sepenuhnya hendak melakukan “de-dolarisasi”. Bahkan sebelum bergabung dengan BRICS, upaya mengarah pada “de-dolarisasi” telah dimulai di ASEAN.
Mengurangi ketergantungaan pada dolar AS adalah tujuan utama BRICS yang dapat dengan mudah diikuti oleh Indonesia. Bagaimana pun, tujuan tersebut sesuai dengan kepentingan nasional kita. Alasan bergabungnya Indonesia dengan BRICS jadi masuk akal.
Satu agenda yang tidak sejalan dengan Indonesia, sebagai anggota ke-11 dan terbaru, adalah mengubah BRICS menjadi aliansi anti-Barat. Langkah ini coba dikendalikan oleh beberapa anggota awal, khususnya Tiongkok dan Rusia. Gabungan antara india, India, Brasil, dan Afrika Selatan dalam BRICS seharusnya cukup untuk melawan segala upaya yang dilakukan kedua anggota besar tersebut, untuk menjadikan BRICS sebuah senjata dalam persaingan kekuatan besar yang sedang berlangsung.
Jika kita mencari keuntungan lebih cepat, bergabung dengan Bank Pembangunan Baru (New Development Bank), yang merupakan cabang finansial BRICS, akan memberi Indonesia akses baru ke pendanaan pembangunan. Hal ini bisa menjadi alternatif selain Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, dan bantuan dari pemerintah asing.
Lebih dari sekadar masalah uang, BRICS dapat menjadi alat yang ampuh bagi Indonesia dalam menjalankan prinsip-prinsip kebijakan luar negerinya yang non blok, independen, dan aktif.
Indonesia bersama negara-negara berkekuatan menengah lainnya dalam BRICS harus melawan tekanan terhadap polarisasi lanskap geopolitik global yang terjadi saat ini. Indonesia harus menggunakan kekuatan dan pengaruhnya untuk terus mempromosikan dunia multipolar.
Memang, inilah salah satu tujuan utama yang dikemukakan Prabowo saat menjelaskan alasan bergabungnya Indonesia dengan BRICS. Ia juga menyebutkan bahwa Indonesia juga sedang dalam proses bergabung dengan Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (Organization for Economic Cooperation and Development atau OECD) dan Perjanjian Kemitraan Komprehensif dan Progresif Trans Pasifik (Comprehensive and Progressive Agreement Trans Pacific Partnership atau CPTPP).
Satu-satunya alasan mengapa kita cepat menjadi anggota BRICS adalah karena proses masuk yang relatif tidak rumit, jika dibandingkan dengan dua forum lainnya. Indonesia diberi jalan yang mudah, mendahului negara-negara lain seperti Thailand dan Malaysia. Dua negara tersebut mengajukan permohonan untuk menjadi anggota pada saat yang sama, atas desakan Rusia.
Kita harus menganggap kemudahan bagi Indonesia ini menjadi pengakuan atas posisi Indonesia sebagai negara menengah. Pengaruh Indonesia dapat memengaruhi pembangunan global. Kita akan berada dalam posisi yang jauh lebih kuat ketika kita menjadi bagian dari banyak organisasi multilateral penting lainnya.
Rencana perluasan BRICS, dengan 40 negara lain yang telah mengajukan permohonan atau menyatakan minat bergabung, membawa risiko merusak koherensinya. Semakin banyak anggota juga mempersulit proses mencapai kesepakatan terkait banyak isu.
Pada pertemuan tingkat tinggi di Rio de Janeiro, negara tuan rumah sepakat untuk menghindari pembahasan tentang perang di Ukraina, Gaza, dan yang terbaru, antara Israel dan Iran. Keputusan itu diambil karena 11 anggota diketahui memiliki posisi yang berbeda. Satu hal yang mungkin akan mereka setujui bersama adalah dalam menentang perang tarif yang telah dilancarkan Presiden AS Donald Trump terhadap hampir semua negara di dunia.
Kini, setelah Indonesia menjadi bagian BRICS, Indonesia tidak saja harus memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari organisasi ini. Di sisi lain, Indonesia harus mengambil peran utama dalam mengarahkan kelompok ini menuju sikap melayani kepentingan negara kita dan negara-negara berkembang di belahan bumi selatan.
Share your experiences, suggestions, and any issues you've encountered on The Jakarta Post. We're here to listen.
Thank you for sharing your thoughts. We appreciate your feedback.
Quickly share this news with your network—keep everyone informed with just a single click!
Share the best of The Jakarta Post with friends, family, or colleagues. As a subscriber, you can gift 3 to 5 articles each month that anyone can read—no subscription needed!
Get the best experience—faster access, exclusive features, and a seamless way to stay updated.