TheJakartaPost

Please Update your browser

Your browser is out of date, and may not be compatible with our website. A list of the most popular web browsers can be found below.
Just click on the icons to get to the download page.

Jakarta Post

Bukan hanya sekadar anggota biasa

Kita harus menganggap kemudahan keanggotaan di BRICS jadi pengakuan atas posisi Indonesia sebagai negara dengan ekonomi menengah, dan karenanya mampu memengaruhi pembangunan global. 

Editorial board (The Jakarta Post)
Jakarta
Mon, July 7, 2025 Published on Jul. 6, 2025 Published on 2025-07-06T15:40:16+07:00

Change text size

Gift Premium Articles
to Anyone

Share the best of The Jakarta Post with friends, family, or colleagues. As a subscriber, you can gift 3 to 5 articles each month that anyone can read—no subscription needed!
Attendees stand at the entrance to the BRICS Business Forum in Rio de Janeiro, Brazil, on July 5. Attendees stand at the entrance to the BRICS Business Forum in Rio de Janeiro, Brazil, on July 5. (AFP/Daniel Ramalho)
Read in English

 

Presiden Prabowo Subianto mengejutkan seluruh negeri ketika, beberapa hari setelah pelantikan pada Oktober tahun lalu, ia mengumumkan bahwa Indonesia akan bergabung dengan BRICS. Organisasi ini adalah forum global yang didukung oleh Tiongkok, Rusia, dan India.

Saat itu, muncul pertanyaan tentang apa yang akan kita dapat dari forum multilateral lain, kontribusi apa yang kita berikan, dan apa yang akan membuat bergabung dengan BRICS sepadan dengan usaha kita. Apa pun itu, kita tidak ingin Indonesia menjadi sekadar “brics” biasa. Dalam Bahasa Inggris, brics adalah batu bata. Jangan sampai keanggotaan kita hanya seperti batu bata di tembok, yang tak kentara. 

Pekan ini, debut Presiden Prabowo di pertemuan BRICS di Rio de Janeiro dapat menjawab beberapa pertanyaan yang mengemuka seputar keputusannya yang tergesa-gesa untuk bergabung dengan kelompok tersebut. Hal itu menunjukkan perubahan mendadak dalam kebijakan luar negeri Indonesia.

Agenda utama Indonesia yang sejalan dengan agenda BRICS adalah dalam upaya mereformasi struktur ekonomi dan keuangan global, yang saat ini oleh sebagian besar pihak dipandang sebagai tidak adil dan tidak benar. Pendahulu Prabowo, Joko “Jokowi” Widodo, dalam banyak kesempatan mengkritik Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional karena lebih mewakili kepentingan Barat dan bukan kepentingan mayoritas masyarakat global.

The Jakarta Post - Newsletter Icon

Viewpoint

Every Thursday

Whether you're looking to broaden your horizons or stay informed on the latest developments, "Viewpoint" is the perfect source for anyone seeking to engage with the issues that matter most.

By registering, you agree with The Jakarta Post's

Thank You

for signing up our newsletter!

Please check your email for your newsletter subscription.

View More Newsletter

Kita juga punya minat yang sama terhadap kampanye BRICS untuk mengurangi besarnya ketergantungan perdagangan internasional pada dolar Amerika Serikat, meski tidak sepenuhnya hendak melakukan “de-dolarisasi”. Bahkan sebelum bergabung dengan BRICS, upaya mengarah pada “de-dolarisasi” telah dimulai di ASEAN.

Mengurangi ketergantungaan pada dolar AS adalah tujuan utama BRICS yang dapat dengan mudah diikuti oleh Indonesia. Bagaimana pun, tujuan tersebut sesuai dengan kepentingan nasional kita. Alasan bergabungnya Indonesia dengan BRICS jadi masuk akal.

Satu agenda yang tidak sejalan dengan Indonesia, sebagai anggota ke-11 dan terbaru, adalah mengubah BRICS menjadi aliansi anti-Barat. Langkah ini coba dikendalikan oleh beberapa anggota awal, khususnya Tiongkok dan Rusia. Gabungan antara india, India, Brasil, dan Afrika Selatan dalam BRICS seharusnya cukup untuk melawan segala upaya yang dilakukan kedua anggota besar tersebut, untuk menjadikan BRICS sebuah senjata dalam persaingan kekuatan besar yang sedang berlangsung.

Jika kita mencari keuntungan lebih cepat, bergabung dengan Bank Pembangunan Baru (New Development Bank), yang merupakan cabang finansial BRICS, akan memberi Indonesia akses baru ke pendanaan pembangunan. Hal ini bisa menjadi alternatif selain Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, dan bantuan dari pemerintah asing.

Lebih dari sekadar masalah uang, BRICS dapat menjadi alat yang ampuh bagi Indonesia dalam menjalankan prinsip-prinsip kebijakan luar negerinya yang non blok, independen, dan aktif.

Indonesia bersama negara-negara berkekuatan menengah lainnya dalam BRICS harus melawan tekanan terhadap polarisasi lanskap geopolitik global yang terjadi saat ini. Indonesia harus menggunakan kekuatan dan pengaruhnya untuk terus mempromosikan dunia multipolar.

Memang, inilah salah satu tujuan utama yang dikemukakan Prabowo saat menjelaskan alasan bergabungnya Indonesia dengan BRICS. Ia juga menyebutkan bahwa Indonesia juga sedang dalam proses bergabung dengan Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (Organization for Economic Cooperation and Development atau OECD) dan Perjanjian Kemitraan Komprehensif dan Progresif Trans Pasifik (Comprehensive and Progressive Agreement Trans Pacific Partnership atau CPTPP).

Satu-satunya alasan mengapa kita cepat menjadi anggota BRICS adalah karena proses masuk yang relatif tidak rumit, jika dibandingkan dengan dua forum lainnya. Indonesia diberi jalan yang mudah, mendahului negara-negara lain seperti Thailand dan Malaysia. Dua negara tersebut mengajukan permohonan untuk menjadi anggota pada saat yang sama, atas desakan Rusia.

Kita harus menganggap kemudahan bagi Indonesia ini menjadi pengakuan atas posisi Indonesia sebagai negara menengah. Pengaruh Indonesia dapat memengaruhi pembangunan global. Kita akan berada dalam posisi yang jauh lebih kuat ketika kita menjadi bagian dari banyak organisasi multilateral penting lainnya.

Rencana perluasan BRICS, dengan 40 negara lain yang telah mengajukan permohonan atau menyatakan minat bergabung, membawa risiko merusak koherensinya. Semakin banyak anggota juga mempersulit proses mencapai kesepakatan terkait banyak isu.

Pada pertemuan tingkat tinggi di Rio de Janeiro, negara tuan rumah sepakat untuk menghindari pembahasan tentang perang di Ukraina, Gaza, dan yang terbaru, antara Israel dan Iran. Keputusan itu diambil karena 11 anggota diketahui memiliki posisi yang berbeda. Satu hal yang mungkin akan mereka setujui bersama adalah dalam menentang perang tarif yang telah dilancarkan Presiden AS Donald Trump terhadap hampir semua negara di dunia.

Kini, setelah Indonesia menjadi bagian BRICS, Indonesia tidak saja harus memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari organisasi ini. Di sisi lain, Indonesia harus mengambil peran utama dalam mengarahkan kelompok ini menuju sikap melayani kepentingan negara kita dan negara-negara berkembang di belahan bumi selatan.

Your Opinion Matters

Share your experiences, suggestions, and any issues you've encountered on The Jakarta Post. We're here to listen.

Enter at least 30 characters
0 / 30

Thank You

Thank you for sharing your thoughts. We appreciate your feedback.

Share options

Quickly share this news with your network—keep everyone informed with just a single click!

Change text size options

Customize your reading experience by adjusting the text size to small, medium, or large—find what’s most comfortable for you.

Gift Premium Articles
to Anyone

Share the best of The Jakarta Post with friends, family, or colleagues. As a subscriber, you can gift 3 to 5 articles each month that anyone can read—no subscription needed!

Continue in the app

Get the best experience—faster access, exclusive features, and a seamless way to stay updated.