Can't find what you're looking for?
View all search resultsCan't find what you're looking for?
View all search resultsebuah kilang di Dumai, Riau, milik perusahaan minyak dan gas negara Pertamina terbakar pada Sabtu (1 April), melukai sembilan pekerja dan merusak beberapa bangunan di wilayah sekitar kilang tersebut.
Insiden Dumai terjadi hanya selang sebulan setelah kebakaran depo penyimpanan bahan bakar di Jakarta Utara. Bencana di Jakarta menewaskan lebih dari 30 orang. Insiden tersebut memicu kewaspadaan terkait sistem pengamanan di fasilitas-fasilitas lawas milik Pertamina.
Juru bicara Unit Kilang Dumai, Agustiawan, mengatakan pada The Jakarta Post pada Minggu (2 April) bahwa fokus Pertamina sekarangi adalah membantu masyarakat memulihkan kondisi mereka. Saat ini, Polda Riau menyelidiki penyebab kebakaran kompresor gas kilang yang diduga kuat sebagai sumber api.
Agustiawan mengatakan, beberapa rumah dan tempat ibadah di sekitar lokasi mengalami rusak ringan akibat kebakaran. Insiden mengakibatkan sembilan karyawan yang bertugas di bagian operasional terluka terkena pecahan kaca akibat ledakan. Namun mereka telah dipulangkan dari rumah sakit Pertamina di Dumai setelah mendapat pertolongan pertama.
“Kami menyesalkan kejadian tersebut, dan kami akan bertanggung jawab atas kerugian yang dialami masyarakat,” kata Agustiawan. Ia menambahkan bahwa Pertamina akan mengganti semua kerugian harta benda akibat ledakan dan kebakaran tersebut.
Pertamina juga telah membentuk tim untuk membantu pemulihan masyarakat dan pembangunan kembali. Tim terdiri dari perwakilan pemerintah Riau, penegak hukum dan masyarakat setempat. Kerusakan akibat kebakaran mulai disurvei. Pertamina juga menurunkan tim medis untuk terus mencari jika ada korban luka yang belum tertangani.
“Kami pastikan stok BBM aman, khususnya untuk wilayah Sumatera bagian utara. Mudah-mudahan proses recovery berjalan lancar sehingga operasional kilang kembali optimal dalam beberapa hari ke depan,” imbuh Agustiawan.
Rangkaian insiden
Peristiwa Sabtu di Dumai menjadi fasilitas Pertamina ketiga yang terbakar dalam kurun waktu empat minggu.
Yang pertama adalah depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara, pada 3 Maret yang menyebabkan ribuan penduduk harus mengungsi. Perkiraan awal, korban tewas adalah 12 orang. Namun kemudian dikoreksi pejabat Dinas Kesehatan Jakarta menjadi 33 orang.
Presiden Joko “Jokowi” Widodo dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengunjungi lokasi depo Plumpang sehari setelah kejadian. Jokowi yang pernah menjadi Gubernur Jakarta berjanji untuk melakukan audit keselamatan dan perencanaan khusus terhadap fasilitas yang berpotensi berbahaya di seluruh negeri.
Dalam pertemuan dengan anggota DPR pada 15 Maret, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan bahwa perusahaan berencana menghidupkan kembali rencana lama menciptakan zona penyangga sejauh 100 meter di sekitar depo bahan bakar dan pipa Pertamina. Rencana tersebut dipicu kejadian kebakaran pada 2009. Untuk depo Pertamina Plumpang, demi zona penyangga, lebih dari 1200 bangunan akan direlokasi. Nicke memastikan bahwa perlu waktu tiga bulan untuk menyelesaikan proses realisasi rencana.
Insiden kedua terjadi pada 26 Maret. MT Kristin, kapal tanker minyak yang disewa Pertamina, terbakar dalam perjalanan ke Bali dan Lombok, Nusa Tenggara. Kapal membawa 5.900 kiloliter bahan bakar. Tim SAR berhasil menyelamatkan 14 dari 17 awak kapal, sedangkan tiga orang tewas.
Masalah keamanan
Menurut Vice President Corporate Communications Pertamina Fadjar Djoko Santoso, kondisi di depo Dumai berbeda dengan di depo Plumpang Jakarta. Di Dumai, Pertamina berhasil menjaga zona aman antara depo dengan perumahan warga.
“Jarak dari unit [kompresor gas] yang terbakar ke permukiman terdekat cukup jauh, kurang lebih 450 meter,” ujarnya pada Minggu kemarin (2 Maret).
Fadjar menambahkan, pihaknya akan terus mengevaluasi standar keselamatan fasilitas Pertamina.
“Tidak ada yang ingin peristiwa seperti ini terjadi berulang kali. [Karena itu Pertamina] akan terus mengevaluasi standar keselamatan [fasilitas kami], terutama yang berisiko tinggi,” tambahnya.
Pertamina banyak memiliki kilang minyak dan gas tua, berumur puluhan tahun, sehingga rentan mengalami kerusakan dan rawan kecelakaan.
Secara terpisah, Komisaris Utama Pertamina Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama meminta perusahaan untuk menempatkan pejabat senior yang khusus fokus pada keselamatan dan keamanan operasional perusahaan.
“Pesan saya kepada dewan direksi sudah jelas, terutama karena [kebakaran] terjadi berulang kali dalam waktu singkat. Harus ada yang mengawasi aspek HSSE [Health, Security, Safety and Environment atau K3L: Kesehatan, Keamanan, Keselamatan dan Lingkungan] di lapangan,” kata Ahok, Minggu, seperti dikutip tempo.co.
Share your experiences, suggestions, and any issues you've encountered on The Jakarta Post. We're here to listen.
Thank you for sharing your thoughts. We appreciate your feedback.
Quickly share this news with your network—keep everyone informed with just a single click!
Share the best of The Jakarta Post with friends, family, or colleagues. As a subscriber, you can gift 3 to 5 articles each month that anyone can read—no subscription needed!
Get the best experience—faster access, exclusive features, and a seamless way to stay updated.